Sequel Of Nol Kilometer 1999-2017

  • Thursday, 30 November 2023
  • 577 views
Sequel Of Nol Kilometer 1999-2017

Pajeksan Abiwijaya anak yang terlahir dari keluarga sederhana yang sudah tidak memiliki ayah dan ibu. Sejak kecil diasuh oleh neneknya. Pajeksan merupakan anak yang mandiri, dan sudah terlatih mentalnya sejak kecil. Pajeksan yang saat itu masih kecil berumur 12 tahun itu sudah bangun dari pagi buta untuk membantu neneknya berjualan sayuran keliling. “Mbah, hari ini biar aku saja yang berjualan. Adik gak usah ikut.” Ucapnya.’’Iya nak, adikmu biarkan istirahat dulu.” 

Pajeksan, sebagai anak pertama sekaligus sebagai kakak dari ketiga adiknya. Ia bekerja keras demi menyekolahkan adik-adiknya serta meringankan beban neneknya. Pajeksan memiliki adik perempuan yang bernama Miftakhurrahmah, dan 2 adik laki-laki yang bernama Beskalan Adisaputra dan Malioboro Andika. 

“Mbah, aku pamit jualan ya, doain biar dagangannya laris.” Ucapnya sambil berpamitan dan melangkah pergi. “Bayam… bayam…masih segar”, berteriak mempromosikan dagangannya. Matahari semakin terik, membuat baju Pajeksan tampak basah oleh cucuran keringat. Namun semangatnya tak pudar, ia tetap berkeliling menjual sayuran.

Setelah dirasa cukup lama berkeliling, Pajeksan memutuskan beristirahat terlebih dahulu. Lalu ia mencari botol minum di dalam di tas. “Ya Allah, haus sekali. Tapi ketinggalan botol minumnya.” Dia pun menundukkan kepala sambil mengelap keringatnya. Tiba-tiba datanglah segerombolan anak SD, datang menghampirinya. Salah satu dari mereka mendekati Pajeksan. “Eh anak miskin, kurus kering, hitam, dekil. Bisa-bisanya kamu duduk di tempat kita!” bentaknya. “Lah, ini kan tempat umum, kok kamu ngatur-ngatur sih” jawab Pajeksan. “Oh berani sama kita? kasih paham!” suruhnya kepada teman-temannya. Lalu mereka melempar dagangan Pajeksan sampai berserakan di sekitar. Lalu Pajeksan tidak tinggal diam, dia segera melawan anak-anak tersebut dan berlalu dari tempat tersebut.

Setelah meninggalkan tempat tersebut, Pajeksan merenung. Anak-anak itu adalah temannya di SD. Yang memang suka membully Pajeksan. Sesampainya di rumah, Pajeksan menangis sambil memeluk nenek. “Kenapa? gara-gara mereka lagi? sudahlah tidak apa-apa, jangan dipikirkan.” Tutur neneknya untuk menenangkan Pajeksan. “Mbah, maafin Pajeksan yang justru membuat mbah jadi rugi dagangannya dan juga tidak menghasilkan uang hari ini.” ucap Pajeksan merasa bersalah. “Sudah tidak apa-apa, nanti mereka pasti dibalas oleh Allah. Percayalah Allah maha baik pada kita.” Ucap neneknya yang berusaha kembali menenangkannya. 

Tinggal di rumah yang jauh dari kata layak, dan juga berdampingan dengan sawah tempat neneknya bekerja. Pajeksan beserta saudaranya selalu mensyukuri apa yang menjadi keadaan mereka. Bahkan pada hal sekecil apapun, mereka tidak malu terhadap apa yang menjadi kekurangannya. Mereka selalu meyakinkan satu sama lain untuk percaya bahwa kesuksesan pasti akan datang.

Setelah sekian lama Pajeksan tidak bersekolah, akhirnya hasil kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil. Ia akhirnya bisa bersekolah layaknya anak-anak pada masanya. Kerasnya hidup membuat dirinya seperti itu. Anak kecil yang suka berdagang bayam keliling sudah  bersekolah. Anak itu bangun pagi-pagi sekali karena bersemangat sekolah.

“Le, sudah bawa bekal  belum? Mbah putrimu sudah masak?” tanya kakeknya.

“Sudah pak’e aku sudah sarapan juga tadi,” jawabnya.

“Alhamdulilah, pak’e punya rezeki, dibuat jajan di sekolah ya?” ucap kakeknya sembari memberikan uang 50 perak kepada Pajeksan. “lah, gak usah pak’e, buat adik-adik saja,” tolaknya dengan lembut.

 “Sudah, tidak boleh menolak rezeki, ini pak’e kasih buat kamu sendiri. Adik-adikmu sudah sering jajan,toh?” sangkal kakeknya. Dengan tidak enak hati ia mengambil uang itu.

“Pak’e, aku berangkat dulu ya, doain semoga aku jadi pintar,” ucapnya sambil tersenyum. Kakeknya mengusap lembut kepalanya, ia berjongkok untuk  mensejajarkan tinggi badannya dengan Pajeksan. “iya nak, pak’e selalu doain kebaikan buat kamu. Asalkan, kamu jangan pernah berputus asa,” pesan kakeknya.

Pajeksan membuat gaya hormat bendera kepada kakeknya. “siap pak’e, aku berangkat dulu ya,” pamitnya sambil melambaikan tangannya. Pajeksan berlari kecil keluar rumah itu dengan senyuman lebar dan semangat yang luar biasa. Sebagaimana teriknya matahari yang cerah menyinari dunia, sama seperti senyuman Pajeksan yang cerah  menyinari hidupnya.

Ia mengkayuhkan sepeda onthel milik kakeknya yang besarnya tidak sepadan dengan tinggi  badannya yang kecil. Dia tetap percaya diri. Hingga sampailah di sekolah, ia menitipkan sepedanya kepada ibu kantin. Agar bisa di kontrol, lebih bisa dilindungi secara totalitas.

Ia berjalan menuju kelasnya dengan riang, dan senyuman yang masih terukir lebar di wajahnya. Semasuknya ia di kelas, ia disambut ramah oleh teman-teman sekelasnya, walaupun ada sebagian siswa yang memandang aneh dirinya. Selama pembelajaran, ia tidak diganggu ataupun di jahili oleh teman-temannya. Akan tetapi, saat istirahat ada beberapa kelompok anak-anak yang menghinanya.

“Eh anak pindahan, miskin, baju bekasan, celana karung goni. Bisa-bisanya kamu temenan sama temen kita! Masih anak baru juga, sok-sok an banget,” ucap seorang anak yang perawakannya sedikit lebih tinggi darinya. Ia hanya memutar bola matanya malas. Tanpa menjawab apapun yang mereka katakan.

“Oy, bilangin itu dijawab gak usah diam. Punya mulutkan? Atau kamu bisu ya?” karena merasa tertantang, Pajeksan maju ke arah lawannya, kemudian mencengkram kerah  baju lawannya dengan kencang. Baru saja ia ingin melayangkan satu pukulan, tiba-tiba temannya menarik tangan Pajeksan hingga ia  tersungkur.

“Bisa gak jangan berantem?, ini masih di sekolah. Kamu ngelawan gak ada yang bilang kalau kamu  itu keren. Cukup diam dan sabar, anggap aja itu jadi keadaan mereka di masa depan,” ucapnya.

“Apa lah jan, kamu juga tau kan kalau aku udah kesal  banget gara-gara dia. Aku juga posisinya kan baru pindah sekolah,” Pajeksan menghela nafas kasar.

“Ya sudah lah, diamkan saja. Itu berarti dia mengejek dirinya sendiri,” jawabnya kesal.

Tidak ada yang lucu, tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba mereka berdua tertawa Bahagia, seakan tidak ada beban di antara mereka. Waktupun sudah menunjukkan jam istirahat telah selesai, mereka berdua bergegas untuk Kembali ke kelasnya.

Saat perjalanan pulang, Pajeksan berjalan dengan riang sambil mendorong sepedanya, di karenakan ban sepedanya bocor secara tiba-tiba. Ia sangat bersyukur bisa sekolah hari ini, walaupun ada saja orang-orang yang sangat menguji kesbarannya, ia tetap bersabar dan selalu berdo’a.

Sesampainya dirumah, ia disambut dengan keadaan rumah yang sangat berantakan karena kakeknya yang sedang panen cabai. Ia meletakkan tasnya dan berlari ke arah kakeknya yang sedang memilah-milah cabai. “sudah pulang le? Gimana tadi sekolahnya? Temen-temen kamu baik semua kan? Gak ada yang jahatin kamu kan?” pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut sang kakek yang menimbulkan sebuah senyuman tipis dari Pajeksan.

“Alhamdulillah pak’e, semuanya baik-baik saja,” jawabnya.

“Alhamdulillah, ya sudah sekarang ganti baju dulu, habis itu makan siang baru deh nanti bantuin pak’e.” Pajeksan memberikan hormat kepada kakeknya layaknya sedang hormat kepada bendera saat upacara.

Ia menuruti apa yang kakeknya katakana.  Setelahnya ia berlari ke arah tudung makan dan membukanya. Disana ada ikan lele goreng dengan beberapa sayur mayur sebagai lalapan. “ ya Allah, terima kasih sudah memberikan rezeki yang sangat luar biasa untuk hari ini,” batinnya. Ia segera melahap makanan tersebut dengan perlahan sambil menikmatinya, padahal pada jaman itu ikan lele hanya bisa dibeli oleh  orang yang mampu saja tapi entah kenapa kakeknya itu bisa mendapatkan makanan itu.

                                                                         ————

Semua perjalanan perih masa kecilnya sudah terlewati, kini Pajeksan sudah beranjak remaja. Sudah berumur 18 tahun semua kenangan buruk masa kecilnya, masa suram saat ia kecil semuanya sudah berlalu, walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama. 24 oktober 2003, adalah ulang tahunnya yang ke-18 tahun. Kini ia tidak menjadi orang susah lagi.

Hari senin adalah hari upacara bendera, Pajeksan sudah tidak sekolah lagi, lebih tepatnya sudah lulus. Ia sekarang sedang mengagumi Perempuan yang Bernama Marina Sakinah. Awal mereka mereka kenal karena satu sekolah, lama-lama menjadi suka. Pada malam minggu, Pajeksan menjemput Marina dengan bermodalkan motor supra x bututnya. Sesampainya dia di rumah Marina, kakak laki-laki Marina sudah berkacak pinggang menunggu di ambang pintu masuk. Ia mencoba ramah dengan kakaknya, akan tetapi,belum juga ia melangkahkan kaki, kakaknya Marina langsung bertanya-tanya kepada Pajeksan.

“kamu siapa? Pacarnya marina? Kamu sudah punya apa buat adik saya? Kalau tidak punya apa-apa, mending kamu pulang saja. Adik saya sudah ada yang jemput, yang pastinya kendaraannya tidak murahan seperti kamu.” Pajeksan hanya terdiam, kemudian ia melihat mobil sedan hitam mengkilat dengan orang yang di dalam mobilnya mengenakan jas lengkap dengan dasi dan sepatu pantofelnya yang tak kalah mengkilap.

Pajeksan seketika menatap dirinya sendiri yang hanya menggunakan celana jeans Panjang dengan kaos oblong dan sandal swallow. Karena Pajeksan sudah tahu kalau ia dipermalukan oleh kakaknya Marina, ia melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan rumah itu sambil melirik ke balkon kamar atas, ia melihat marina yang mengintip dari jendela kamarnya dengan senyuman pahit yang terukir di wajahnya, ia menatap Pajeksan sambil melambai-lambaikan tangannya. Pajeksan tersenyum tipis dan melangkahkan kakinya keluar dari daerah rumah itu.

Di Perjalanan pulang, ia melihat sebuah sms dari HP nokia miliknya.

“mas Jek, ibu pulang,”

Tubuh pajeksan bergetar hebat, hingga dia menghentikan laju motornya sejenak. Tangan dan sekujur tubuhnya terasa dingin. Ia beristighfar sambil berusaha melajukan motornya Kembali agar bisa cepat sampai menuju rumahnya. Dengan perlahan tapi pasti, ia yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, walaupun kenyataannya tidak begitu. Hatinya terasa hancur sehancur-hancurnya, Pajeksan menghembuskan nafasnya secara kasar, tanpa  sadar, cairan-cairan Mutiara keluar dari matanya yang mengalir sedikit-demi sedikit.

Angin malam yang dingin dan sejuk membuat suasana sedih didalam Pajeksan semakin dalam. Langit malam yang gelap seakan tau isi hati Pajeksan, seakan seisi langit tau jika Pajeksan sangat terpukul. Sesampainya dirumah, Pajeksan langsung berlari ke dalam rumahnya tanpa berlama-lama. Ia melihat wajah ibunya yang pucat pasi, ia memeluk  erat tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa itu.

“Bu, kenapa ibu pergi?padahal aku belum bisa dapetin dia, kok ibu cepet banget perginya?” Pajeksan mengeluarkan rasa sesak di dadanya yang sudah lama ia pendam. Bertahun-tahun ia sudah banyak memendam kesedihan, setidaknya ia bisa menangis sekali saja didepan ibunya, walaupun sekarang tingga raga yang tak bernyawa.

Selamat tinggal ibu, bagi Pajeksan ibu lah yang pertama dan terakhir untuk Pajeksan. Ibu tidak ada duanya bagi Pajeksan, terima kasih bu Sudah merawat Pajeksan hingga saat ini, merawat pajeksan hingga Pajeksan menggapai titik ini. Walaupun, saat masih kecil, Pajeksan sering menghabiskan waktu Bersama pak’e dan mak’e, tapi ibu tetap dihati Pajeksan. Ibu sangat berjasa bagi Pajeksan dan juga adik-adik. Kini semuanya tinggal kenangan dan lembaran foto hitam-putih wajah ibu. Foto yang tidak berwarna namun terlihat sangat berwarna bagi kami, anak-anak ibu. Senyuman indah Bahagia ibu yang dibalik itu semua ada kesedihan dan kelelahan dari wajahmu bu. Selamat tinggal untuk selama-lama, kami sayang ibu.

UNTAIAN PESAN DARI PENULIS

Dari Diah Fitri Ma’rifah, untuk ayah tersayang. “Selamat hari kelahiran ayah yang ke-41. Ini kado yang sangat istimewa yang bisa kakak kasih buat ayah. Doa terbaik buat ayah selalu. Kakak sayang Ayah. Ayah bakal tetap jadi cinta pertama kakak. Ayah adalah yang pertama dan terakhir buat kakak. Ayah gak ada duanya. Bagi kakak Ayah adalah superman terbaik dan terhebat buat kakak. Sekali lagi Barakallah fii umriik Ayah…”

Penulis: Diah Fitri Ma’rifah (Santri kelas 1 Intensif)

Editor : Khuurum M